Jual Bibit dan Pohon Pule di Hutan Sekitar Kota

Jual Bibit dan Pohon Pule di Hutan Sekitar Kota

Jual Bibit dan Pohon Pule di Hutan Sekitar Kota

Dalam kondisi musim kemarau, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan di Trenggalek berbondong-bondong membuka usaha di depan rumahnya. Mereka sangat antusias untuk memulai usaha di musim kemarau karena mereka dapat membuka usahanya selama dua puluh empat jam penuh tanpa tutup. Masyarakat sekitar dapat dengan tenang jika harus membuka usahanya selama itu. mereka tidak harus membuka dan menutupnya usaha yang kadang belum sempat laku sudah hujan dan mereka harus menutupnya. Jika semacam ini mereka akan tetap membuka usahanya di pinggir jalan sepanjang kawasan hutan yang saat ini ramai di lintasi oleh masyarakat yang ingin berpergian atau sedang keluar rumah. Masyarakat sekitar banyak yang Jual Bibit dan Pohon Pule sebagai pilihan dagangannya. Letaknya yang bertepatan di bawah hutan yang banyak tanaman pule menjadikan daya tarik tersendiri bagi pembeli yang akan membeli pohon pule. Pembeli merasa tertarik karena pohon tersebut jika tumbuh akan terlihat seperti yang ada di belakang para penjual. Sehingga mereka tidak perlu contoh tanaman tersebut jika sudah besar nanti. Karena kalau hutan pinus itu ada aktifitas warga yang bertugas menyadap getah pinus. Sehingga apabila terjadi kebakaran kecil bisa langsung diatasi. Untuk meminimalisir hal tersebut pihaknya mengimbau, seluruh masyarakat tidak melakukan maupun dedaunan kering yang ada di dekat kawasan hutan. Para masyarakat yang Jual Bibit dan Pohon Pule juga senang dengan adanya kesempatan tersebut.

Penjual di sekitar hutan ini juga sangat beruntung karena bibitnya sudah disediakan oleh pemerintah perhutani. Selain itu, mereka hanya menjual saja sebagai langkah antisipasi kelangkaan tanaman pule. Perhutani telah membentuk Satauan Tugas Pengendalikan penjulan tanaman ini. Jumlah personil yang terlibat satuan tugas ini sebanyak lima puluh orang, diambilkan dari unsur perhutani yang bertugas di masing-masing tempat. Andi menjelaskan, satgas yang dibentuk ini siaga selama dua puluh empat jam penuh dan melakukan upaya pemantauan dan pengamanan para warga apabila ada kawasan hutan ada masalah. Selain unsur internal perhutani, pihaknya juga melibatkan warga yang ada di sekitar kawasan hutan maupun lembaga masyarakat desa hutan. Pantauan di lakukan agar menjaga keamanan antara pembeli dan penjual Jual Bibit dan Pohon Pule di sekitar hutan saat malam maupun siang hari. Sistem pemadaman api yang digunakaan apabila terjadi kebakaran hutan di daerah pegunungan, dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan ranting dan desaunan basah yang ada di sekitar hutan. cara ini terpaksa dilakukan, karena medan yang sulit tidak memungkinkan satgasdalkar membawa peralatan pemadam kebakaran.  Perhutani berharap seluruh elemen masyarakat bisa bekerjasama untuk menjaga kawasan hutan dan sekitarnya, sehingga tidak terjadi kebakaran seperti tahun-tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *