Torbangun Tanaman Pembooster ASI

TORBANGUN

Hasil gambar untuk torbangun mengatasi

Daun torbangun, atau jintan, tidak asing bagi lebih dari satu ibu di lokasi Sumatera Utara. Daun yang segar, tidak tidak tebal dan berwarna hijau, dengan permukaan daun licin, miliki aroma yang khas. Mengutip Wikipedia, rasanya dilukiskan mirip oregano, terhitung seperti daun mint.

Daun tumbuhan aromatik ini dimanfaatkan sebagai sayuran, untuk masakan sup. Sayuran ini terhitung dikenal bisa menaikkan mengolah ASI.

Tumbuhan daun torbangun atau daun jintan adalah terna tahunan, yang pernah diidentifikasi sebagai tumbuhan abadi semisukulen di keluarga Lamiaceae. Tumbuhan asli Afrika Selatan dan Timur ini banyak dibudidayakan dan dinaturalisasi di tempat lain di tempat tropis, dan dimanfaatkan sebagai obat, tanaman rempah, dan tanaman hias.

Masyarakat Sumatera Utara mengonsumsi daun torbangun, atau yang lebih dikenal dengan nama bangun-bangun ini. Biasanya dijadikan sup, yang dimasak dengan mengfungsikan santan kelapa. Daun bangun-bangun mempunyai persentase seng, zat besi, kalium, dan magnesium yang bisa menaikkan berat badan terhadap bayi.

Daun torbangun (Coleus amboinicus, Lour.) bisa jadi laktagogum untuk menaikkan kualitas dan jumlah air susu ibu (ASI). Torbangun lebih efektif dibandingkan laktagogum lain dan tidak tersedia dampak samping, agar aman untuk ibu dan bayi. Di Sumatera Utara, torbangun kudu dikonsumsi ibu yang baru melahirkan sampai 30 hari.
Tumbuhan torbangun menurut Wikipedia berasal berasal dari Afrika Selatan dan Timur, berasal dari Afrika Selatan (KwaZulu-Natal) dan Swaziland sampai Angola dan Mozambik, dan utara sampai Kenya dan Tanzania. Biasanya tumbuh di hutan atau semak pesisir, di lereng berbatu dan berpasir, atau tanah berpasir di dataran rendah.

Dari Afrika Selatan, tumbuhan ini dibawa orang-orang Arab dan pedagang lain ke Arab, India, dan Asia Tenggara di sepanjang jalan perdagangan maritim Lautan India. Tumbuhan ini kemudian dibawa ke Eropa, dan kemudian berasal dari Spanyol ke Amerika. Di Amerika, daun ini kemudian disebut thimi Spanyol.

Tumbuhan torbangun dikaitkan dengan karakter antiseptik, antimikroba, pencernaan, karminatif, perut, antelmintik, deodoran, diuretik, appetizing, dan tonik. Biasanya digunakan untuk mengobati kasus saluran pernapasan sebagai bronkodilator, antitusif, dan ekspektoran.

Sifat antiseptik dan antimikroba tumbuhan udah dikaitkan dengan terdapatnya senyawa seperti carvacrol, timol, flavon, fenol, tannin, dan asam aromatik. Daunnya secara tradisional digunakan untuk penyembuhan batuk, sakit tenggorokan dan hidung tersumbat, tapi terhitung untuk bermacam kasus lain seperti infeksi, rematik, dan perut kembung.

Tanaman ini dibudidayakan di kebun tempat tinggal di semua India untuk digunakan di di dalam penyembuhan tradisional, digunakan untuk mengobati demam malaria, hepatopati, kalkuli ginjal dan vesikal, batuk, asma kronis, cegukan, bronkitis, helminthiasis, kolik, kejang, dan epilepsi.

Pengobatan tradisional India lain terhitung memanfaatkannya seperti untuk ulserasi kulit, gigitan kalajengking, alergi kulit, luka, diare, dengan penekanan terhadap daun yang digunakan sebagai hepatoprotektif, untuk menaikkan kebugaran hati.

Di Indonesia daun torbangun atau jintan adalah makanan tradisional yang digunakan di di dalam sup untuk merangsang menyusui sepanjang satu bulan sesudah melahirkan. Di Kamboja daunnya dibikin jus dan kemudian diberikan kepada anak-anak sebagai dukungan berasal dari pilek, dan daun dioleskan ke bibir.

Di Bahia, Brasil, orang mengfungsikan tanaman ini untuk mengobati lesi kulit yang disebabkan oleh Leishmania braziliensis. Di sebelah utara, di Paraiba di negara yang sama, tanaman ini biasa digunakan untuk penyembuhan di rumah.

Profesor Dr Rizal Damanik, dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), meneliti daun torbangun secara menyeluruh sejak tahun 2001. Hasil penelitiannya membuktikan mengonsumsi daun torbangun bisa menolong ibu yang tengah hamil atau menyusui mengolah air susu lebih banyak dan lebih miliki kualitas bagi bayinya. Prof Rizal memperoleh penghargaan paling baik ke dua berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional atas penelitiannya itu.

“Tradisi itu udah terjadi sejak ratusan tahun dan sampai saat ini selamanya selamanya dipraktikkan oleh masyarakat Batak di mana pun mereka berada,” katanya, seperti dikutip berasal dari Antara, 16 Juli 2010.

Produksi ASI ibu menyusui yang mengonsumsi sayur torbangun lebih banyak secara nyata dibandingkan mengolah ASI ibu menyusui yang mengonsumsi Moloco+B12 (laktagogum yang biasa dikonsumsi ibu menyusui di kota-kota besar di Indonesia), atau Fenugreek yang merupakan laktagogum di negara Eropa/Amerika.

Konsumsi sayur torbangun tidak hanya menambahkan dampak positif bagi kebugaran ibu menyusui, tapi terhitung bagi bayi yang disusui oleh ibu yang mengonsumsi sayur torbangun. Menurut Prof Rizal Damanik, hal itu tercermin berasal dari lebih dari satu indikator seperti berat badan, lingkar kepala, lingkar dada, dan angka kesakitan berasal dari bayi yang lebih baik.

Prof Rizal memperkenalkan penelitiannya di di dalam acara First 1000 Days Australia Summit, di Brisbane, Australia. Pertemuan itu menghadirkan sejumlah praktisi, pakar kesehatan, ilmuwan, pekerja sosial, untuk mencukupi keperluan kebugaran suku Aborigin dan Torres Strait di Australia, berasal dari menjadi sebelum akan waktu konsepsi, atau bertemunya sel telur dan sperma, janin, sampai bayi berusia dua tahun.

“Tanaman ini saya berbagi dengan orang-orang Australia, gara-gara tanaman ini terhitung terdapat di Australia,” katanya tepat dihubungi Erwin Renaldi berasal dari ABC di Melbourne terhadap 19 Oktober 2017, seperti dikutip australiaplus.com.

“Penelitian ini udah dibuktikan secara sains tidak hanya menaikkan jumlah air susu, tapi terhitung banyak khasiat untuk pertumbuhan bayi dan ibunya dengan indikator medis,” katanya.

Penelitian berkenaan khasiat daun torbangun (Coleus amboinicus, Lour.) sebagai peningkat mengolah air susu ini udah mendapat pernyataan internasional. Penelitian itu masuk di di dalam tidak benar satu chapter di buku pegangan Handbook of Dietary and Nutritional Aspects of Human Breast Milk yang diterbitkan di Belanda.

“Torbangun miliki persentase sepuluh komponen aktif yang saling mengikat, antara lain asam lemak rantai ganda, grup sterol, dan aldehid. Itu membuat meningkatnya jumlah dan kualitas ASI,” kata Rizal Damanik, dikutip berasal dari Kompas terhadap 11 Desember 2013.

Pemerian Botani TanamanTorbangun

Tumbuhan torbangun dikutip berasal dari ipb.ac.id secara umum dikenal sebagai daun jintan. Tumbuhan ini masuk ordo Solanes, famili Labiatae, dan genus Coleus.

Tumbuhan torbangun menyerupai semak. Tumbuhan ini tidak berumbi, percabangan agak berbentuk galah, dan berbulu halus.

Daun berhadapan, tunggal, tebal, berdaging, bulat telur melebar, agak bundar atau berbentuk seperti jantung. Permukaan atas daun berbulu halus tersebar dan terhadap anggota pertulangannya berambut panjang. Tepi daun beringgit kasar sampai bergigi terkecuali terhadap anggota pangkal.

Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol, berwarna hijau muda dan ke dua permukaan berambut halus berwarna putih. Pada keadaan kering, helaian daun tidak tebal dan terlalu berkerut, permukaan atas kasar dan berwarna cokelat, permukaan bawah berwarna lebih muda dan permukaan kasar, serta tulang daun kurang menonjol.

Tumbuhan yang miliki nama ilmiah Coleus amboinicus, Lour. ini, dikutip berasal dari balitnak.litbang.pertanian.go.id, bisa dijumpai nyaris di semua lokasi Indonesia dengan nama berbeda-beda. Di tempat Sunda, dikenal dengan nama ajeran atau acerang, tepat di tempat Jawa dikenal dengan nama daun kucing. Berbagai nama lokal lain ialah daun kambing atau majha nereng (Madura), iwak (Bali), kunu etu (Timor), sukan (Melayu).

Tumbuhan ini hidup kurang lebih 3-10 tahun, dan banyak terdapat di Afrika Tropis, Asia, Australia. Tumbuhan ini udah lama digunakan secara tradisional sebagai makanan, aditif pakan ternak, dan lebih-lebih sebagai obat bermacam macam penyakit.

Torbangun Leaves

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.